Swarna Sarko

Ada Apa dengan M. Syukur

IMG-20190410-WA0021Oleh : Himun Zuhri

OPINI,swarnajambi.co.id – Nama senator Dapil Jambi dua periode asal Kabupaten Merangin H Muhammad Syukur, SH., MH setiap hajatan Pemilu maupun Pilkada selalu menjadi buah bibir, baik dari yang suka maupun yang tidak, tentu semua itu punya alasan masing-masing.

Khususnya oleh warganet di media sosial facebook, nama Syukur sering menari-nari dari jari ke jari para Netizen dan sepertinya selalu menarik untuk dikomentari. Timbul pertanyaan apakah tak ada politikus lain yang asyik dibicarakan selain nama Syukur?

Apakah seorang Syukur begitu ditakutkan lawan-lawan politik nya sehingga muncul begitu banyak isu, seperti, Syukur yang dianggap tak berbuat selama dua kali menjabat. Bahkan lebih mirisnya yang tak mengerti tugas dan wewenang DPD pun ikut berkomentar.

Apakah ini berkaitan dengan dendam politik atau ada pihak-pihak tertentu ketakutan dengan gerakan Syukur, sehingga beredar opini dan bisa juga bagian dari strategi menghentikan langkah politik Syukur karena dianggap membahayakan bagi lawan – lawan politik nya.

Mungkin saja itu untuk bupati Merangin pada Pilkada 2023 nanti atau Gubernur Jambi 2021?. Tetapi entah lah, biar waktu yang menjawab.

Kalau lah Syukur di anggap tak banyak berbuat oleh manyoritas, lalu pertanyaan nya kenapa team atau pendukung kelihatannya tetap solid bahkan seolah- olah begitu mencintai, ia tetap jadi idola tak sedikit yang masih mengharapkan kehadiran Syukur.

Hal ini berdasarkan pantauan dari media sosialnya, dari setiap pertemuan-pertemuan Syukur di tengah masyarakat terlihat selalu ramai, kondisi ini berbanding terbalik dengan pembicaraan di ‘ruang warung-warung politik’.

Tak banyak memang, sekelas calon perseorangan (DPD) mampu mengumpulkan massa diberbagai daerah. Baik itu pelantikan tim atau saksi calon, padahal jelas calon DPD tak punya jaringan struktural layaknya partai politik. Sekelas calon legislatif yang didukung Parpol-pun tak banyak yang bisa demikian.

Namun dari itu semua, harus diakui memang, Syukur mendapat penolakan dari sekelompok warganet, dan ini tak bisa di generalisir ditolak oleh semua, sebab hingga hari ini penulis belum pernah mendapat informasi bahwa ada warga yang menolak kunjungan Syukur.

Tudingan Syukur tak berbuat banyak tersebut menurut penulis agak subyektif sebab tak ada indikator jelas yang jadi takaran seseorang anggota DPD divonis tidak pernah berbuat, apalagi dengan kewenangan yang sangat terbatas. Anggapan itu sah-sah saja dan bentuk dari kebebasan berpendapat.

Penulis tak mengulas soal berbuat atau tidak karena anggota DPD RI asal Jambi ada 4 orang. Tak adil rasanya menilai perbuatan satu orang dengan menafikan tiga orang lainnya, sebab keempatnya wakil daerah provinsi Jambi bukan wakil kabupaten/kota.

Tak sedikit warganet ikut berkomentar bahkan hingga ada yang meremehkan peluang Syukur kembali terpilih pada 17 April 2019 nanti. Sesama warganet penulis turut mengamati beberapa postingan baik di grup facebook maupun di dinding pribadi para netizen terkait hal ihwal.

Namun, perlu kita ketahui bersama, ini momen politik, sudut pandang pemilih dalam menilai juga punya sisi berbeda didasarkan pada kepentingan masing-masing. Tidak perlu menghujat, jual-lah keunggulan calon masing-masing. Jika tak suka, ya tak usah pilih.

Anggota DPD aktif Dapil Jambi ada 4 orang sementara calon DPD Dapil Jambi di Pemilu 2019 ini ada 20 orang, jangan sampai kita menunjukkan kebencian pada calon tertentu. Hal itu tak elok dalam proses demokrasi kita.

Tak bisa dipungkiri, kondisi ini secuil imbas dari proses Pilkada Merangin 2018 lalu, efek Syukur menyatakan sikap mendukung salah satu pasangan Calon bupati, dan hasilnya kandidat Syukur kalah. Bagi yang berseberangan dengan pilihan Syukur rivalitas itu terbawa hingga Pemilu 2019.

Sejujurnya, penulis juga pernah menyayangkan, andai saja ‘dulu’ Syukur memilih netral dalam Pilkada Merangin 2018, mungkin tak seperti ini jadinya. Tetapi lagi-lagi itulah politik, netral dalam politik bukan berarti tidak memiliki pilihan politik.

Syukur merupakan sosok politisi senior yang handal, jika politisi baru diistilahkan sebagai “pemain” Syukur bisa dikatakan sebagai “pelatih” dalam panggung politik, meski demikian karir politiknya tak selalu bejalan mulus. Sukses dan gagal dalam baginya sudah biasa.

Pada Pilkada 25 Maret 2013 silam, Syukur merupakan Calon Bupati Merangin berduet dengan Fauziah, bak kata bijak ‘mujur dan dapat diraih malang tak dapat ditolak’, Syukur -Fauziah yang disingkat Syufi harus takluk melawan Al Haris – Khafid dan paslon nomor 2 ini dinyatakan kalah.

Mungkin saja ada yang mengira, Syukur terpuruk pasca kekalahan itu. Barang tentu telah terkuras, tenaga, waktu, fikiran dan juga materi pada pertarungan yang diikuti empat paslon dan merupakan putra-putri terbaik bumi tali undang tambang teliti.

Mungkin saja, Syukur berpegang pada Words of Wisdom atau kata kata bijak dari Winston Churchill dari Inggris yang sering dipopulerkan oleh Presiden ILC Karni Ilyas.

“Dalam perang, Anda hanya bisa dibunuh satu kali, tetapi dalam politik Anda bisa dibunuh berkali-kali,”

Kalah di Pilkada 2013 itu, ternyata tak membuat Syukur ‘terbunuh’ bahkan ia semakin kuat di Pemilu Legislatif 2014, yangmana alumni magister hukum Universitas Jayabaya Jakarta ini berhasil menaikkan perolehan suaranya dengan angka fantastis yakni 260 persen merujuk hasil Pileg 2009.

Pileg 2009, perolehan suara M Syukur berada dibawah perolehan suara Elviana yang memperoleh 126.736 suara, Syukur mendapatkan 90.762 suara, diikuti Juniwati T Masjchun Sofwan dengan 74.427 suara dan kursi ke empat untuk Hasbi Anshory dengan perolehan 58,497 suara. Adapun pemilih dihadapkan 56 calon

Sementara pada Pemilu Legislatif 2014 suara Syukur membludak dan jauh melampui perolehan suaranya pada Pilkada 2013 yang hanya mendapat 47.678 suara, itupun hasil kerja kolektif bersama Fauziah dan pemilih waktu itu hanya disuguhkan 4 opsi calon.

Di Kabupaten Merangin saja mantan pengacara dan artis ini mendapatkan 103.684 suara, itu hasil kerja person, yang mana pemilih dihadapkan dengan pilihan sebanyak 32 calon anggota DPD.

Se-Dapil Jambi Syukur mendapat suara paling banyak yakni 235.943, disusul Daryati Uteng S 127.376 suara, kemudian Juniwati T Masjchun Sofwan 94.841 suara dan kursi terakhir diraih Abu Bakar Jamalia dengan perolehan 93.605 suara.

Artinya apa, dari pencalonan pertamanya sebagai anggota DPD RI di Pemilu 2009 dan pencalonan keduanya pada Pemilu 2014, sungguh terjadi peningkatan suara pemilih Syukur yang sangat signifikan.

Dapat disimpulkan bahwa, Syukur adalah calon anggota DPD RI dan satu-satunya putra Merangin yang mencalonkan diri sebagai Senator telah terbukti memiliki kekuatan massa yang real, telah mengakar dan menjalar, rasanya sulit tokoh sekaliber Syukur ditumbangkan pada Pemilu ini.

Andaipun, penurunan suaranya mencapai 50 persen pasca diterpa berbagai isu yang berusaha menggembosi gerakan politik Syukur dan berkaca pada hasil Pemilu 2014, Suaranya masih diposisi aman diangka ratusan ribu. Meskipun dalam politik semua kemungkinan-kemungkinan bisa saja terjadi.

Selain itu, cukup menjadi renungan bagi penulis, mungkin bagi kita semua mengapa ada istilah “Syukur lagi, Syukur lagi,” Terlepas kita pemilih Syukur atau tidak, pertanyaannya? sudahkan kita menyiapkan putra terbaik Merangin yang mampu bersaing dipanggung politik nasional dalam bursa pencalonan DPD???. Jika ada itu lebih baik lagi.

Rasanya, hingga saat ini belum muncul siapa sosok itu, dan Syukur sebagai putra Merangin sepertinya masih istiqomah berjuang di jalur DPD. Soal pilihan silahkan sesuaikan dengan keinginan masing-masing.

Akhir dari tulisan ini, mari kita memberikan hak kita pada Pemilu. Dan, bebas bicaralah tak meski harus saling membenci, berjanjilah semua untuk bangsa ini, mari saling membesarkan sesama anak negeri.

*Penulis : Himun Zuhri, Bangko 10 April 2019.



1530 Views

Facebook

Copyright © 2015-2018. Swarnajambi.co.id, All Rights Reserved.

To Top