Swarna Sarko

SMPN 4 Merangin, Sekolah Rujukan Beli Kursi Lewat Iuran Siswa, Kepsek : “Berapo Kali Minta ke Diknas Haram nyu Magih”

IMG20190813114752

Tanpak SMPN 4 Merangin, Sekolah Rujukan tingkat SMP yang merupakan sekolah favorit di Merangin

MERANGIN,swarnjambi.co.id – ‘Bak gayung bersambut’ persoalan demi persolan menyelimuti dunia pendidikan di Merangin, khususnya lembaga pendidikan dibawah naungan dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Merangin. Mulai dari persoalan tenaga pendidik, sarana dan prasarana hingga ‘pungutan liar’ yang seakan tak berkesudahan.

Kali ini dialami Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN 4) Merangin yang merupakan Sekolah Rujukan tingkat SMP di Merangin ternyata masih melakukan pungutan untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana di lingkungan sekolah tersebut, sementara diketahui Bantuan Operasional Sekolah (BOS) disini tergolong besar.

Sarana dan prasarana tersebut yakni kursi yang seyogyanya menjadi tanggung jawab pemerintah namun masih di pungut melalui iuran siswa di salah satu sekolah terfavorit di Merangin ini. Menariknya iuaran hanya dipungut untuk kelas VIII dan IX tidak diterapkan kepada siswa baru (kelas VII).

Hal ini diakui langsung oleh kepala SMPN 4 Merangin Hj Nurhidayati saat dibincangi awak media, Selasa (13/8/2019). Namun menurut Nurhidayati pungutan yang telah berlangsung tersebut sudah dihentikan karena terjadi pro dan kontra.

“Yo kemaren memang ado, cuma 50 ribu. Kami memang memiliki murid banyak dan dana BOS yang besar, hanya saja masih fokus untuk beli buku, makanya kursi kami kurang,” ujarnya gamblang.

Bahkan kata Nurhidayati kondisi ini disinyalir karena pihaknya telah berkali-kali meminta bantuan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Merangin melalui Kepala Bidang (Kabid) Bina SMP Cecep Arken namun tak pernah dikabulkan.

“Kami lah berapo kali minta dengan Cecep Diknas, haram nyu magih,” ungkapnya lagi.

Saat ditanya apakah pihaknya tidak mengetahui aturan tentang adanya larangan melakukan pungutan tersebut yang konon katanya dipertegas dengan edaran dinas pendidikan dan kebudayaan Merangin. Apakah pihaknya pernah merima edaran tersebut?.

“Sampailah (edaran) cuma macam mano lagi, tapi kini lah kami setop, ribut-ribut soal pungutan, cuma ado 12 kursilah,” sambungnya.

Setelah di stop, pungutan yang terlanjur dipungut tersebut apakah dikembalikan kepada orang tua siswa yang telah membayar duluan?. “Manolah caro, lah kami beli ke kursi, kursi lah kami masuk ke kelas,” terangnya.

Sementara itu, Kabid Bina SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Merangin Cecep Arken saat dikonfirmasi membantah tudingan terkait usulan SMPN 4 yang tak pernah di kabulkan, bahkan Cecep mempertanyakan balik apakah SMPN 4 pernah mengajukan usulan tersebut secara tertulis.

“Saya tanya apakah pernah SMPN 4 mengajukan usulan secara tertulis kepada diknas,” tanya Cecep ditemui diruang kerjanya.

Bahkan sebelumnya tegas Cecep pihaknya saat proses Penerimaan Siswa Baru (PMB) telah melakukan sosialisasi dan melayangkan edaran larangan melakukan pungutan dalam bentuk apapun kepada siswa.

“Edaran sudah kami sampaikan, dak boleh melakukan pungutan dalam bentuk apapun, itukan sudah ada aturan dalam Permendikbud,” pungkas Cecep.

Reporter : Himun Zuhri
Editor      : Akhmad Ramadhan



2541 Views

Facebook

Copyright © 2015-2018. Swarnajambi.co.id, All Rights Reserved.

To Top