Swarna Sarko

Dicoret Sebagai Penerima PKH, Zainap Menduga Soal Politik, Tim Hamas Ikut Disebut

IMG20190315222402

Zainap salah satu mantan penerima PKH Kecamatan Bangko yang memperlihat kalender yang disebarkan oleh Gesti pendamping PKH Kecamatan Bangko

MERANGIN,swarnajambi.co.id – Salah satu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dari Program Keluarga Harapan (PKH) atas nama Zainap mengaku dikeluarkan dari daftar penerima program unggulan Kemensos ini, ia menduga dirinya dikeluarkan oleh oknum pendamping PKH Kecamatan Bangko karena beda pandangan politik.

Zainap yang merupakan warga Pulau Kemang kelurahan Dusun Bangko ini mengaku sejak beberapa tahun lalu mendapat bantuan dari program ini, namun beberapa hari lalu, serasa ‘bak disambar petir di siang bolong’ ia mendapat pemberitahuan dikeluarkan sebagai KPM oleh pendamping yang diketahui bernama Gesti Putri.

Awal pencoretan namanya sebagai penerima PKH kata Zainap, ketika ia diberitahu oleh Gesti saat yasinan rutin kelompak KPM di salah satu rumah penerima di kebun Sayur, Gesti mengumumkan bahwa diantara penerima yang hadir akan dikeluarkan sebagai penerima PKH.

“Buk Gesti, mengumumkan di yasinan bahwa ada peserta yang dikeluarkan, ia menawarkan namanya disebut di rumahnya langsung atau di forum ini, kami menawarkan disampaikan langsung kerumah yang bersangkutan, biar tidak malu, namun akhirnya diumumkan di forum dan ternyata nama itu saya,” kata Zainap dengan nada lirih.

Setelah namanya diumumkan oleh pendamping tersebut, lalu diberikan surat untuk ditandatangan, dan ia menandatangani surat itu tanpa terlebih dahulu membacanya, soal penyebab namanya dicoret menurut Zainap alasan yang tidak masuk akal.

“Jadi buk Zainap dikeluarkan dari PKH, dengan alasan suami sehat, ibuk jualan ikan banyak habisnyo, artinyo lah berado,” terang Zainap berusaha menirukan kata-kata yang disampaikan oleh Gesti kepadanya.

Setelah itu, dikatakan Zainap sebelum ia bergegas pulang dan peserta yasinan yang masih berada dilokasi diberikan jilbab oleh Gesti, saat ditanya apakah Jilbab dari program PKH? “Bukan, dikasih supayo nyoblos bapaknyo, Caleg jugo, dan aku dak dapek kareno akulah dikeluarkan,” tambahnya.

Merasa belum puas dengan keputusan Gesti yang juga sebagai Koordinator Pendamping PKH Kecamatan Bangko, akhirnya Zainap bersama suaminya mendatangi kediaman Gesti di kawasan Bangko Tinggi dengan harapan keputusan itu dapat diurungkan.

Namun kata Zainap, setelah bertemu dirumah Gesti bukan dimasukkan lagi sebagai penerima tetapi Gesti malah menantang, mau melapor kemanapun permasalah ini tidak akan mempengaruhi keputusan yang merupakan haknya.

“Kemanopun nak ngadu dak ngaruh, keputusan ada ditangan sayo, kekantor sosial-pun kamu diopor-opor jugo,” kata Zainap kembali menirukan ucapakan Gesti.

Bukan mencari solusi kata Zainap yang ada hanya pembahasan soal politik, “Dio nanyo di pulau kemang siapo Caleg yang kuat?, hingga mempertanyakan hubungan keluarga sayo dengan duo orang caleg dari dusun Bangko, dak itu bae ternyato, dio langsung ngato ibuk dulu Tim Hamas maren kan?, mungkin ini penyebab sayo dicoret,” ungkap Zainap yang mengakui ia tim Haris – Mashuri (Hamas) saat Pilkada.

Zainap membeberkan aktifitas terselubung Gesti yang memanfaatkan jabatan pendamping PKH untuk mengkampanyekan orang tuanya yang merupakan Caleg DPRD Merangin Dapil Merangin I dan Zainap mengakui tidak bisa memenuhi permintaan Gesti secara maksimal sebelum ia diberhentikan.

“Waktu itu saya jualan ikan, datang buk Gesti, dia bilang, buk Zainap tolong yo, coblos bapak sayo, saya lah dua tahun bantu ibuk menerima PKH, kini giliran ibuk bantu sayo, sayo jawab satu suaro bisalah, dio bilang minimal harus dua suara dari sayo,” jelasnya.

Bahkan sambung Zainap, pada 14 Januari 2019 lalu di Kebun Sayur, Gesti juga telah membagikan kalender dan stiker Caleg.

“Dia bagikan kalender dan stiker serta ngajak kami memilih bapak dio (Adrianus,red) bahwa anggota kelompok yasinan ada 25 KK, harus memilih bapaknyo galo, dan dia bilang besok akan cek saat pemilihan di TPS berdasarkan KK yang dipegangnya,” ujar Zainap bercerita didampingi suaminya. Jumat (25/3/2019) malam.

Secara terpisah, Gesti saat dikonfirmasi terkait pernyataan Zainap dan ia membenarkan telah mencoret nama Zainap karena dianggap telah mampu secara finansial

“Memang betul saya sudah menggraduasi mandirikan ibu zainap karena ibu tersebut sudah saya anggap mampu dalam finansial, hasil evaluasi saya ibu tersebut sudah mendapatkan program bedah rumah dan ekonominya sudah meningkat dan sama sekali tak ada kaitannya dengan politik,” kata Gesti melalui pesan Whatapps.

Menurut Gesti, dirinya memang wajib untuk menggraduasikan (mencoret, red) PKH minimal 1 tahun satu orang KPM PKH yang dianggap sudah mapan ekonominya dan tidak sesuai lagi dengan kriteria penerima PKH, karena program ini di peruntukkan untuk keluarga miskin agar tepat sasaran.

Terkait tudingan soal pilihan politik termasuk soal menyebutkan tim Hamas, Gesti membantah itu tidak benar “Itu tidak benar,” singkat Gesti. “Kalau soal kalender dan stiker kebetulan ada yang kenal dengan pak Adrianus yang mencalon dia menanyakan bahwa itu orang tua ibuk? saya jawab iya, lalu mereka meminta kalender dan stiker,” kata Gesti membenarkannya.

Reporter : Himun Zuhri
Editor      : Akhmad Ramadhan



2731 Views

Facebook

Copyright © 2015-2018. Swarnajambi.co.id, All Rights Reserved.

To Top