Swarna Jambi

Candi Muaro Jambi “Mangkrak” ke UNESCO, Mahasiswa Arkeologi Unja Gelar Diskusi dan Hadirkan Dosen Hukum International

IMG-20190518-WA0002

Suasana diskusi yang sedang berlangsung

JAMBI,swarnajambi.co.id – Mahasiswa Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jambi pada Jum’at (17/05/19) selenggarakan acara buka puasa bersama dengan cara berbeda, yakni diawali dengan forum diskusi public membahas nasib Candi Muaro Jambi yang menjadi icon Pariwisata Provinsi Jambi.

Dimana candi terluas di asia tenggara ini sudah 10 tahun masuk dalam Tentative List Situs Warisan Dunia UNESCO sejak diajukan pada 6 Oktober 2009 namun hingga saat ini terkesan “mangkrak”.

Ketua panitia acara Vista Astrilianda mengatakan bahwa acara ini bertujuan meningkatkan tali silaturahmi antara mahasiswa arkeologi yang diisi dengan majelis ilmu bersama para narasumber yang ahli dibidangnya.

“Ini bentuk kepedulian kami terhadap Situs Candi Muaro Jambi yang masuk dalam janji politik “Jambi Tuntas” bahwa akan mengembangkan candi ke level internasional namun saat ini belum juga terwujud,” ujar Vista mahasiswa arkeologi angkatan 2017 ini.

Diskusi yang dilaksanakan disalah satu rumah makan di bilangan Telanai dimulai pukul 16.00 sd 18.00 WIB yang diikuti 50 orang mahasiswa menghadirkan tiga narasumber, pertama Dosen Hukum Internasional Fakultas Hukum UNJA, Mochammad Farisi, LL.M yang membahas perlindungan internasional World Heritage Site.

Farisi menjelaskan bahwa situs ini sangat berpotensi menjadi Warisan Dunia UNESCO, untuk itu persiapan menuju kesana harus memenuhi semua persyaratan yang ada didalam World Heritage Convention 1972 dan Operational Guidelines for the Implementation of the World Heritage Convention.

Yangmana kata Farisi harus memenuhi 4 syarat Outstanding Universal Value: pertama memenuhi 10 kriteria, kedua integritas dan keaslian, ketiga perlindungan dan manajemen pengelolaan serta keempat analisis perbandingan.

“Keempat syarat ini harus dipenuhi dan di update terus menerus apabila pemerintah daerah mau serius menjadikan situs ini menjadi warisan dunia,” jelas alumi UGM ini dihadapan mahasiswa Arkeolgi yang menggelar acara buka bersama.

Sementara itu, narasumber kedua yakni ketua Prodi Arkeologi FIB UNJA, Asyhadi Mufsi Sadzali, MA ia menjelaskan tentang Justification of Outstanding Universal Value (OUV) Candi Muara Jambi, dimana berdasarkan dossier yang telah didaftarkan ke World Heritage Centre.

Bahwa situs ini memenuhi criteria (ii), (iii), dan (iv) yaitu pertama, memiliki peran global dimasa lalu menjadi universitas terbesar atau pusat pendidikan se Asia Tenggara yang menjadi tempat belajar cendekiawan dari seluruh dunia salah satunya It Sing Biksu dari China.

“Kedua nilai penting dari segi arsitektur bangunan candinya yang unik dan memiliki makna filosofis yang mendalam baik secara harmony alam dan oleh yang maha kuasa, poin ketiga nilai yang luar biasa dari segi pengembangan pengetahuan hidrologi dan tata kelola air dengan mmebuat kanal-kanal buatan untuk mengendalikan banjir sekaligus sebagai arus transportasi,” jelas Asyhadi Mufsi Sadzali.

Selanjutnya narasumber ketiga Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi Drs. Ujang Hariadi ia menyampaikan materi manajemen pengelolaan Candi Muara Jambi.

IMG-20190518-WA0003

Bahwa Pemerintah Provinsi Jambi menurut Ujang hanya berwenang membantu proses menuju warisan dunia, pihaknya sudah melakukan promosi dan seminar serta kajian-kajian ilmiah tentang candi ini, baru-baru ini ia beserta pemda Muaro Jambi telah bertemu dengan Direktorat Pelestarian Kemendikbud untuk membentuk Badan Pengelola Candi Muara Jambi.

“Badan pengelola tersebut berisi para ahli, pemda dan juga perwakilan masyarakat, Insyallah tahun depan bisa terwujud sehingga pengelolaannya bisa lebih professional. Saya juga sangat bersyukur bahwa masyarakat sekitar sangat peduli dengan menjaga dan melestarikan cerita-cerita rakyat atau fokhlor,” terang Ujang.

Selain ketiga narasumber tersebut, kegiatan diskusi ini juga dihadiri oleh Agus Sudaryadi dari BPCB Jambi, Kabid Destinasi, Sundari serta Kasi Purbakala Yatim.

Setelah pemaparan dari ketiga narasumber acara dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab dari para mahasiswa lalu acara ditutup dengan berbuka puasa bersama. (*).

Editor : Himun Zuhri



176 Views

Facebook

Copyright © 2015-2018. Swarnajambi.co.id, All Rights Reserved.

To Top